Lompat ke isi utama

Berita

Diskusi Bersama Mahasiswa, Bagja Ingatkan Bahaya Distorsi Informasi terhadap Demokrasi

asf

Ketua Bawaslu Rahmat Bagja dalam pelatihan kader Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) di Cirebon, Senin (11/5/2026). Foto: Pemberitaan dan Publikasi Bawaslu RI

Cirebon – Ketua Rahmat Bagja menyoroti ancaman serius yang dihadapi demokrasi modern akibat maraknya distorsi informasi di era digital. Menurutnya, manipulasi informasi kini dapat memengaruhi opini publik dan berdampak pada menurunnya kualitas demokrasi.

Hal tersebut disampaikan Bagja saat menghadiri pelatihan kader Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) di Cirebon, Senin (11/5/2026). Ia menjelaskan bahwa perebutan pengaruh politik saat ini tidak lagi hanya terjadi pada momentum pemilu lima tahunan, tetapi berlangsung setiap hari melalui media sosial dan ruang digital.

Bagja menilai perkembangan teknologi turut mengubah pola demokrasi modern. Selain kekuatan politik konvensional, dinamika demokrasi kini dipengaruhi oleh algoritma digital, kecerdasan buatan, buzzer politik, hingga perang narasi di media sosial.

Menurutnya, distorsi informasi menjadi ancaman karena dapat mengaburkan fakta, memecah solidaritas sosial, serta menurunkan kualitas partisipasi masyarakat dalam demokrasi. Kondisi tersebut juga dinilai berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap lembaga negara.

Ia menambahkan, kontestasi politik saat ini lebih banyak berorientasi pada perebutan perhatian publik dibandingkan pertarungan gagasan secara utuh. Para aktor politik pun dituntut menyesuaikan pola komunikasi yang singkat, visual, dan sensasional agar mampu bertahan di ruang digital.

Bagja menegaskan bahwa persaingan demokrasi kini tidak hanya ditentukan oleh besarnya dukungan masyarakat, tetapi juga oleh kemampuan menguasai teknologi penyebaran informasi.

Lebih lanjut, ia menilai digitalisasi yang semula diharapkan menciptakan kesetaraan justru memunculkan ketimpangan baru. Aktor politik yang memiliki sumber daya besar dianggap lebih mudah membeli perhatian publik melalui iklan politik, penguasaan data pemilih, maupun pengelolaan preferensi media sosial.

Akibatnya, kandidat yang lebih mampu mengikuti pola algoritma digital cenderung memiliki keuntungan lebih besar dibandingkan kandidat yang mengedepankan substansi gagasan kepada masyarakat.

Sumber : Bawaslu RI

Tag
Rahmat Bagja